Image Hosted by ImageShack.us
| Jafar G Bua | E: jgbua@yahoo.com | M: 0811 45 0992 - 0813 410 45728 | A: Jalan Bakuku Nomor 1 Palu Sulawesi Tengah Indonesia |




Image Hosted by ImageShack.us

| catatan sepanjang jalan |

Tong sampah dan ruang bagi catatan-catatan penting selama perjalananku dan hal-hal lain yang dianggap perlu diketahui orang lain

<< July 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31

| message |


| menu |
kabar dari poso
potret diri
buku tamu
di mataku
yang lain
kampung
dari pojok kota

| link |
detikcom
eramuslimcom
astagacom
primbon
sultengcom
imageshack
transtv
tanah merdeka

| hot issues |
Free Image Hosting at www.ImageShack.us

Kertas Posisi YTM Palu: Menguak Tabir Isolasi Desa Sulewana

| map of palu |
Free Image Hosting at www.ImageShack.us




Google







Global Voices Online - The world is talking. Are you listening?
Masukkan Email Anda Jika Ingin berita dari Catatan Sepanjang Jalan!

powered by Bloglet

Poso google satellite maps
Anda Pengujung ke:
Free Web Counter




rss feed



 
Monday, July 10, 2006
News

Maleo, Burung Antipoligami yang Terancam Punah

 

Anda kenal Maleo? Bisa jadi, ya! Bisa jadi pula, tidak! Dalam bahasa latin satwa yang masuk dalam bangsa Aves atau burung ini dikenal dengan nama Macrocephalon maleo. Tubuhnya tidak lebih besar dari bebek, tapi telurnya tiga kali lebih besar dari telur bebek. Beratnya mencapai 450 gram per butirnya.

 

Burung ini adalah satwa endemik Sulawesi, artinya hanya bisa ditemukan hidup dan berkembang di Pulau Sulawesi. Dan, populasi terbanyaknya kini tinggal di Sulawesi Tengah. Salah satunya adalah di cagar alam Saluki, Donggala, Sulawesi Tengah. Di wilayah yang masuk dalam enclave Taman Nasional Lore Lindu ini, populasinya sekarang ditaksir tinggal 320 ekor. Memprihatinkan, sebab jumlah populasi pada tahun 1970-an ditaksir tak kurang dari 1000 ekor. Populasi Maleo kian terancam oleh para pencuri telur dan pembuka lahan yang mengancam habitatnya, ditambah lagi dengan musuh alami yang menjadi pemangsa telur Maleo, yakni babi hutan atau biawak.

 

Habitat Maleo yang khas juga mempercepat kepunahannya. Maleo hanya bisa hidup di dekat pantai berpasir panas atau di daerah pegununungan yang memiliki sumber mata air panas atau kondisi geothermal tertentu. Sebab di daerah dengan sumber panas bumi itu, Maleo mengubur telurnya dalam pasir hingga kedalaman 15 centimeter. Lalu telur itu dierami oleh panas bumi, karena Maleo tidak bisa mengerami sendiri.

 

Sayang, pencuri telurnya kian merajalela. Di pasaran harga telur Maleo mencapai Rp 15 ribu per butir. Itulah yang membuat telurnya diburu pencuri. Untunglah Dinas Kehutanan Melalui Balai Taman Nasional Lore Lindu berhasil membuat penangkaran satwa endemik. Dan seorang laki-laki tua bernama Ambo Tuo, petani setempat, dengan ketekunan berhasil menangkarkannya. Sudah sekitar 100 ekor Maleo tangkarannya yang dilepas ke alam bebas. Laki-laki itu ditemani Hermansyah Sia, seorang petugas kehutanan setempat.

 

Ada pula Ali Kamisi, lelaki yang sudi menghabiskan hari-hari di masa tuanya untuk menangkarkan burung yang memakan kemiri ini. 

 

Ketiga orang itu berharap satwa endemik warisan dunia ini bisa mencapai ratusan ekor lagi populasinya. Agar anak cucu kita tak hanya mendengar dongeng tentang burung bertelur besar yang konon antipoligami ini.***

 


Posted at 02:45 pm by jgbuapalu

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry