Image Hosted by ImageShack.us
| Jafar G Bua | E: jgbua@yahoo.com | M: 0811 45 0992 - 0813 410 45728 | A: Jalan Bakuku Nomor 1 Palu Sulawesi Tengah Indonesia |




Image Hosted by ImageShack.us

| catatan sepanjang jalan |

Tong sampah dan ruang bagi catatan-catatan penting selama perjalananku dan hal-hal lain yang dianggap perlu diketahui orang lain

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30

| message |


| menu |
kabar dari poso
potret diri
buku tamu
di mataku
yang lain
kampung
dari pojok kota

| link |
detikcom
eramuslimcom
astagacom
primbon
sultengcom
imageshack
transtv
tanah merdeka

| hot issues |
Free Image Hosting at www.ImageShack.us

Kertas Posisi YTM Palu: Menguak Tabir Isolasi Desa Sulewana

| map of palu |
Free Image Hosting at www.ImageShack.us




Google







Global Voices Online - The world is talking. Are you listening?
Masukkan Email Anda Jika Ingin berita dari Catatan Sepanjang Jalan!

powered by Bloglet

Poso google satellite maps
Anda Pengujung ke:
Free Web Counter




rss feed



 
Monday, July 10, 2006
News

Meneg KLH: Masyarakat Harus Dilibatkan Melestarikan Hutan

 

Palu - Menteri Negara Kelestarian Lingkungan Hidup Rahmat Witoelar menyatakan bahwa kerusakan hutan di indonesia saat ini kian  memprihatinkan. Kerusakannya sudah mencapai sekitar 60 persen dari total luas hutan kita. Dan kerusakan hutan itulah yang menjadi penyebab utama sejumlah bencana banjir di Indonesia.

 

Berbicara pada peringatan puncak Hari Lingkungan Hidup se-Dunia di Donggala, Sulawesi Tengah, Selasa (4/7/2006) Meneg KLH mengatakan bahwa upaya pelestarian hutan harus melibatkan masyarakat. Ia mengaku kagum dengan upaya masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional Lore Lindu yang berpartisipasi aktif dalam upaya pelestarian hutan. Masyarakat setempat bahkan turut melestarikan sejumlah satwa endemik yang terancam punah semisal burung maleo (Macrochepalon maleo) dan sapi dataran tinggi anoa (Buballus quarlessi).

 

Menurut Witoelar, saat ini laju kerusakan hutan kita makin tinggi. Sudah sekitar 60 persen dari total luas hutan kita rusak.

 

Ia juga mengakui illegal logging mempunyai andil besar memperparah kondisi hutan di Indonesia. Belum lagi ditambah dengan perambahan untuk pembukaan ladang-ladang rakyat saat kebutuhan social ekonomi mendesak warga.

 

“Karenanya kita bertindak keras kepada para pelaku illegal logging. Tinggal kemudian bagaimana menyadarkan warga yang mulai merambah  hutan karena desakan kebutuhan sosial ekonom,I mereka,” sebut Witoelar.

 

Pada kesempatan itu, Meneg KLH juga melepaskan seekor burung maleo yang berhasil ditangkarkan oleh masyarakat setempat. Maleo dikenal sebagai satwa endemik Sulawesi yang kini makin terancam punah karena populasinya kian menyusut akibat musuh alami dan pencurian oleh manusia. Maleo memiliki ukuran telur lima kali dari telur ayam.***

 


Posted at 02:43 pm by jgbuapalu
Tulis Komentar Anda  

 
Wednesday, June 21, 2006
News

Potret Warga Miskin di Tipo

Kehidupan pun Ada di Seporsi Binte

 

PEREMPUAN itu mengenalkan namanya pada saya, Nasriah. Sependek itu saja. Usianya sekitar 40 tahun. Masih ada bedak dingin melekat di wajahnya ketika saya menemuinya di warung binte di poros Jalan Palu-Donggala, Kelurahan Tipo.

 

Ya, ia menjual binte di situ. Pelanggannya anak-anak Sekolah Menengah Pertama Tipo. Kata mereka binte perempuan ini enak. Apalagi jika ditambah dengan brownies yang juga dijualnya.

 

Bicara soal binte, pasti kita sudah tahu adanya. Orang dari daerah lainnya di luar Sulawesi kerap menyebutnya sup jagung, karena memang bahan bakunya terbuat dari jagung muda, ditambah cacahan ikan, daun bawang dan dibumbuhi rica atau lombok kecil. Agar makin berasa tentu saja harus ditambah garam dan penyedap rasa.

 

Nah, kembali ke perempuan bernama Nasriah tadi, dia adalah salah seorang penerima dana bergulir dari BKM. Dia mendapat Rp 500 ribu untuk mengembangkan usahanya ini.

 

Setiap bulan ini mengembalikan Rp 69 ribu rupiah kepada pengelola keuangan BKM. Rp 50 ribu pengembalian pokoknya, ditambah 1,5 persen bunga dan ditambah lagi Rp 11.500 sebagai simpanannya yang akan dikembalikan ketika dia sudah melunaskan seluruh dana bergulir itu.

 

“Ini memang sangat membantu saya mengembangkan usaha. Saya punya modal banyak. Jadi selain binte, saya bisa menjual kue-kue lainnya,” aku Nasriah.

 

Ia dibantu anaknya, Hajriah, agar tidak kewalahan melayani pembeli. Dengan senyum sumringah ia menjawab: “Saya mau kalau bantuannya ditambah. Siapa tahu saya bisa usaha lainnya.”  Jawaban itu terlontar ketika saya menanyakan apakah ia mau jika nilai bantuannya ditambah.

 

Namun, ia buru-buru berkata lagi: “tapi bantuan ini sudah cukup. Apalagi setiap hari saya bisa mendapat penghasilan bersih tak kurang dari tujuh puluh ribu rupiah. Ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan saya sehari-hari.”

 

Ternyata, kehidupan pun ada di seporsi binte dan di sepotong kue brownies.

Posted at 05:35 pm by jgbuapalu
Tulis Komentar Anda  

News

Tipo: Kampung Petani dan Nelayan di Ujung Kota

 

MATAHARI belumlah terlalu naik. Bola apinya belumlah jauh meninggalkan bibir laut Teluk Palu. Namun panasnya mulai terasa menyengat. Di Rabu (21/6/2006) pagi, laju sepeda motor yang saya kendarai tak mampu mengalahkan sengatan terik matahari.  

 

Saya hendak bertemu dengan Muhammad Syarif, anak muda energik yang baru berusia 28 tahun. Ia lulusan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Palu dengan gelar Sarjana Hukum Islam. Ia akan memandu saya mengakrabi kampung petani dan nelayan di ujung Kota Palu ini. 

 

Kampung ini dalam data administrasi Pemerintah Kota Palu bernama Kelurahan Tipo. Terdiri dari enam Rukun Warga dan 12 Rukun Tetangga. Luasnya sekitar 570 hektare. Jaraknya tak kurang 10 kilometer dari Kota Palu. Sebagian besar penduduknya adalah petani, lalu nelayan. Sisanya, Pegawan Negeri Sipil, anggota Kepolisian Republik Indonesia dan ada pula wiraswastawan.

 

Tercatat 604 Kepala Keluarga mendiami salah satu kelurahan di bibir Teluk Palu ini. Rincian populasinya mencapai 3.007 jiwa. penduduk yang mendiaminya. Dari jumlah itu, 1.502 jiwa adalah laki-laki dan 1.505 jiwa adalah perempuan. Dalam presentase kependudukan tercatat 30 persen adalah Petani dan 25 persen bekerja sebagai nelayan. Lalu 25 persennya adalah PNS, TNI maupun Polri. Sisanya sekitar 20 persen berusaha swadaya.

 

Di antara mereka, menurut Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat Kelurahan Tipo,  Muhammad Syarif, ratusan jiwa di antaranya adalah keluarga miskin. Jumlahnya tak kurang dari 473 Kepala Keluarga. Jumlah yang tak bisa dibilang sedikit mengingat jaraknya yang tak terlalu jauh dari Kota Palu.

 

Beruntung ada anak-anak muda energik seperti Syarif yang memikirkan masalah itu. Bersama 13 pemuda, perempuan dan ibu-ibu rumah tangga mereka menyahuti program pemerintah untuk pengentasan kemiskinan. Jadilah mereka tumpuan harapan Pemerintah dalam Proyek Pengentasan Kemiskinan di Perkotaan.

 

April 2005, proyek ini dimulakan, Syarif dan kawan-kawannya mulai bekerja ekstra keras. Mengumpulkan data warga miskin di kampung petani dan nelayan itu dan memilah lagi siapa yang layak dibantu. Ada bantuan tak kurang dari Rp 250 juta yang disediakan oleh P2KP bagi warga miskin itu.

 

Lalu dibuatlah 23 kelompok dari sejumlah warga miskin itu. Sebanyak 12 kelompok di Tipo dan 11 kelompok di Dusun Lekatu. Untuk per orangnya dari tiap kelompok mereka diberikan bantuan Rp 240 bagi pengembangan usahanya. Itu khusus bagi 11 kelompok di Desa Lekatu yang rata-rata mata pencahariannya bertani. Lalu Rp 500 ribu per orang bagi 12 kelompok di Tipo.

 

Sejauh ini, sejak April 2005 lalu, sekitar Rp 50 juta sudah dikucurkan membantu keluarga miskin di kelurahan di bibir teluk Palu ini.

 

“Namun yang harus diingat, dana itu adalah dana bergulir. Jadi sedianya mereka harus mengembalikan bantuan yang sudah mereka terima untuk diberikan lagi kepada yang lain,” kata Syarif mengingatkan.

 

“Dan itulah masalahnya, ada yang sudah mengembalikannya secara mengangsur selama 10 bulan. Tapi ada pula yang sampai kini belum mengembalikannya,” sambung Rahmi, remaja perempuan yang bekerja untuk BKM Kelurahan Tipo.

 

Untuk itu, imbuh Syarif lagi, mereka tak bosan selalu mengingatkan kepada warga miskin yang sudah dibantu untuk segera mengembalikan lagi bantuan yang sudah diberikan kepada mereka setelah digunakan untuk mengembangkan usahanya.

 

Selama ini, warga miskin setempat menggunakan dana bantuan itu untuk mengembangkan usaha warung, budidaya pertanian, penangkapan ikan dan lainnya.

 

Ada yang mampu mengelola dana bantuan itu, ada pula yang tak jelas nasibnya. Lalu bagaimana upaya BKM menyiasatinya? Sebab sampai kini baru Rp 10 juta dana itu yang kembali.

 

“Ini memang sulit, karena dalam perjanjian pemberian dana bergulir itu, tak ada jaminan seperti kita mengambil kredit pinjaman di bank. Upaya kita paling menyadarkan mereka bahwa itu adalah dana bergulir yang harus dikembalikan lagi,” sebut Syarif menutup pembicaraan.

 

Setelah meminum secangkir kopi susu dan memakan secuil roti, saya pun berpamitan menemui warga miskin yang telah dibantu dengan dana bergulir tadi.

 

Wah, matahari semakin tinggi. Sengatan teriknya bukan main panasnya. Hamparan biru Teluk Palu seperti jadi cermin memantulkan cahayanya. Untung angin sepoi-sepoi basah bertiup menyejukkan.


Posted at 05:33 pm by jgbuapalu
Comment (1)  

 
Tuesday, June 20, 2006
News

Ratusan Siswa di Donggala Tak Lulus Ujian Nasional

Donggala - Dampak tidak lulusnya ratusan siswa Sekolah Menengah Umum di Sulawesi Tengah dalam Ujian Akhir Nasional tahun 2006 ini mulai terasa. Selasa (20/6/2006), ratusan siswa SMU Negeri 1 Marawola, Donggala, Sulawesi Tengah yang dinyatakan tidak lulus menggelar demonstrasi menolak hasil pengumuman tersebut. Mereka membakar ban-ban bekas dan mencabuti sejumlah tanaman yang di tanam di halaman sekolahnya. Pasalnya dari 152 siswi SMUN tersebut hanya enam yang dinyatakan lulus.

Beginilah sejumlah siswa SMU Negeri 1 Marawola mengungkapkan kemarahannya atas hasil pengumuman UAN yang memutuskan mereka tidak lulus. Sejumlah pamflet mereka tulis menyatakan kejengkelan mereka. Sejumlah tanaman di halaman sekolah pun dicabuti.

Sedang para siswi meluapkan kemarahannya dengan menangis dan menggerutui Kepala SMU Negeri 1 Marawola Mohammad Rizal.

“Mana janjinya. Katanya kami semua lulus seratus persen, ternyata bohong. Kalau kami tidak lulus, lalu putus sekolah kami, mau jadi apa,” teriak Meity, salah seorang siswi di tengah kerumunan teman-temannya.

“Kami semua sudah belajar. Les dan segala macamnya. Kami rasa jawaban ujian kami bagus-bagus saja, kenapa kami tidak lulus. Pokoknya kepala sekolah harus bertanggungjawab,”  kata Putri, siswi lainnya.

Adapun menurut Wakil Kepala SMU Negeri 1 Marawola Rosdiani, pihaknya bukannya tak berusaha membantu agar semua siswa lulus dalam UAN, namun kenyataan bicara lain.

“Untuk membantu mereka, kami sudah melakukan pengkayaan. Les dan kelas tambahan. Tapi kami tidak bias berbuiat apa-apa lagi setelah adanya pengumuman kelulusan ini. Sekarang kelulusan siswa memakai standardisasi yang diberlakukan oleh pemerintah kita,” kata Rosdiani.

Sejauh ini, pihak sekolah sudah melakukan pertemuan dengan Dinas Pendidikan dan Pengajaran setempat. Namun sampai kini baik pihak sekolah maupun dinas pendidikan belum dapat mengambil sikap atas tidak lulusnya ratusan siswa ini.

Secara umum, kelulusan siswa SMU dan Sekolah Menengah Kejuruan dalam UAN terbilang cukup tinggi mencapai 82 persen. Meningkat dari tahun 2005 lalu yang hanya 60 persen.***

Posted at 07:27 pm by jgbuapalu
Comment (1)  

News

Wabah DBD Serang Palu, Seorang Bocah Meninggal Dunia

Palu - Keganasan Demam Berdarah Dengue kembali memakan korban. Kali ini, Andika Bhayangkara, bocah laki-laki yang baru berusia empat tahun harus meregang nyawa diserang penyakit yang dibawa nyamuk aedes aegepty ini. Ia meninggal Selasa (20/6/2006) dinihari dalam perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Undata. Andika adalah korban ketiga DBD di Kota Palu, Sulawesi Tengah tahun 2006 ini.

Titin, ibu sang bocah malang itu hanya bisa menangis meraung-raung meratapi kepergian anak kesayangannya itu. Selama empat hari dirawat di RSUD Undata Palu, Sulawesi Tengah kondisi Andika memang kritis. Bocah malang ini terlambat di bawah ke rumah sakit lantaran ketiadaan biaya orang tuanya.

“Saya tidak menyangka Andika pergi secepat ini. Minggu lalu dia masih bermain-main dengan teman-temannya,” tutur Titin sambil terisak.

Menurut kesaksian tetangga Titin, bocah itu sepekan sebelumnya masih terlihat riang namun tak lama ia terserang demam panas. Ibunya mengira ia hanya terkena demam anak-anak biasa. Kemudiaan tetangganya menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit. Di rumah sakit baru diketahui bahwa Andika terkena DBD.

Lingkungan permukiman dan tempat bermain andika, memang memprihatinkan. Sanitasi lingkungannya tergolong buruk. Di beberapa tempat terlihat air menggenang dari saluran yang tersumbat. Kematian Andika ternyata membawa hikmah. Warga setempat berencana akan membersihkan lingkungannya dan mengupayakan pengasapan.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu, Dokter Abdullah sejak Januari tahun ini tercatat sudah 82 anak yang terserang DBD. Dari 82 anak tersebut, tiga orang di antaranya meninggal dunia. Sekadar diketahui, tahun lalu serangan DBD di Kota Palu dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa.

“Namun tahun ini, belum sampai pada taraf itu. Meski demikian kita harus tetap mewaspadainya. Karena cuaca sudah berganti memasuki musim penghujan. Dan biasanya di musim hujan banyak wabah penyakit bermunculan,” demikian Abdullah.***


Posted at 07:25 pm by jgbuapalu
Tulis Komentar Anda  

 
Friday, June 16, 2006
News

Bentrok Antarkampung:

Dimulai dari Perebutan Tanah Berujung pada Kematian

 

Donggala - Bentrok antarkampung kembali terjadi di Donggala, Sulawesi Tengah. Bentrokan ini dipicu oleh perebutan batas wilayah Desa Maku dan Desa Watubula di Kecamatan Biromaru, Donggala, sekitar 20 kilometer dari Palu, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah. Akibat bentrokan ini, seorang warga terluka parah terkena tembakan senjata peluncur bermata besi berkait dan tiga rumah warga setempat ikut pula dibakar. Bentrokan terjadi Rabu (14/6/2006) sekitar pukul 13.00 Waktu Indonesia Tengah.

 

Saat itu, sekitar 40 orang warga Watubula tengah kerja bakti menanam pohon pisang di atas tanah yang dipersengketakan warga dua desa tersebut. Entah bagaimana, puluhan orang warga dari Desa Maku mendatangi warga Watubula yang tengah menanam pohon pisang tadi, lalu menebang tanaman pisangnya. Tak puas dengan itu, mereka lalu menebas Peni, warga Watubula yang berusia sekitar 40 tahun. Bahkan salah seorang di antara warga yang mendatangi Peni, lalu menembaknya dengan senjata peluncur bermata besi berkait. Tembakan itu menancap di lengan kiri lelaki tadi.

 

Serangkaian bentrokan antarkelompok massa di Donggala sudah kerap terjadi. Dimulai dari sekitar tahun 1980-an, ketika puluhan kepala keluarga masyarakat terasing dimukimkan kembali (resetlemen—red) oleh Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Tengah. Masyarakat suku terasing itu berasal dari pegunungan barat Donggala. Saat itu mereka dimukimkan di sejumlah wilayah di Donggala, Sulawesi Tengah.

 

Sejak itu, beragam masalah muncul. Mulai dari perebutan tanah hingga pencurian ternak. Bahkan tak jarang masalah itu kemudian membesar dan berujung pada kematian.

 

Untuk diketahui, masyarakat suku terasing itu rata-rata bersuku da’a (rumpun besar suku Kaili, suku utama di Sulawesi Tengah – red). Lalu masyarakat asli di Donggala meski juga adalah rumpun suku bangsa Kaili, namun menggunakan dialek Ledo.

 

Persoalan kemudian makin menjadi seperti benang kusut, ketika kaum pendatang bersuku Bugis mulai merambah daerah-daerah subur untuk pertanian di wilayah ini. Pola Masalah kemudian menjadi seperti segitiga sama sisi.


Dapat dicatat aksi-aksi kekerasan itu berlatarbelakang berbeda. Mulai dari soal suku, agama, sosial, ekonomi, bahkan ada yang berlatar persoalan antarkeluarga yang kemudian menyeret empati komunal lebih luas lagi hingga berujung pada aksi kekerasan massa.

Yang sempat dicatat yang terjadi pada 21 Januari 2004, penduduk Maranatha, Donggala (sekitar 20 kilometer dari Palu) yang bersuku Da’a (Kaili—red) bentrok dengan penduduk bersuku Bugis. Saat itu dilaporkan 1 korban tewas terkena tembakan senjata api rakitan laras panjang. Persoalan ini berlatarbelakang pada saling klaim kepemilikan sepetak lahan pertanian di perbatasan kedua kampung itu.

 

Lagi-lagi bentrok antarsuku terjadi di Lembah Palu pada 3 September 2004. Kali ini terjadi antarwarga bersuku Kaili dan Bugis di Sidondo, Donggala (sekitar 35 kilometer dari Palu). Ada yang memakai senjata tradisional seperti parang, sumpit dan tombak, ada pula yang diketahui memakai senjata api rakitan laras panjang. Persoalan dasarnya adalah masalah sosial dan ekonomi. Secara kasat mata, warga Suku Bugis lebih maju secara ekonomi tinimbang warga Suku Kaili, yang merupakan komunitas suku asli di Lembah Palu.

Nah, pada 17 September 2004 kasusnya tergolong unik. Soalnya, sesama warga Suku Kaili di Pesaku dan Sidondo, Donggala saling serang. Persoalan bermula dari persoalan antarpemuda yang menyeret empati komunal yang kemudian termobilisasi untuk saling menyerang.

 

Serangkaian kekerasan masih terus terjadi, pada Rabu, 3 November 2004, seorang pemuda terbunuh akibat bentrok antarpemuda bersuku Bugis dan Kaili di Sidondo, masih di wilayah yang sama dengan bentrok terakhir pada Rabu (14/6) kemarin.

 

Menurut Rizali Djaelangkara, pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tadulako ia melihat kekerasan demi kekerasan yang terjadi sesungguhnya tanpa sadar diajarkan oleh Negara.

 

“Kita bahkan memiliki standar ganda melihat kekerasan. Kalau kekerasan itu dilakukan aparat keamanan, kita melihatnya sebagai sebuah aksi yang dilegitimasi oleh hukum atau atas kepentingan umum,” demikian hemat Rizali.

Dialog Antarmasyarakat

Untuk menyelesaikan masalah di sekitar wilayah itu, Pemerintah Kabupaten Donggala dan Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah bukannya tak berusaha. Saban terjadi bentrokan, sejumlah tokohmasyarakat, tokoh pemuda dan berbagai kelompok masyarakat dipertemukan.

 

Namun dialog demi dialog itu seperti tak ada hasil. Dari hari ke hari justru kualitas kekerasan makin meningkat. Mulai dari hanya menggunakan parang atau senjata tradisional lainnya, sampai menggunakan senjata api rakitan dengan amunisi buatan PT Pindad.

 

Khusus untuk bentrokan yang terjadi pada Rabu (14/6) kemarin, Kepala Desa Maku Zainul Ahyar dan Kepala Desa Watubula Mathius, yang warganya terlibat bentrok itu sudah dipertemukan. Namun hasilnya adalah ngotot-ngototan. Masing-masing pihak mengklaim sebidang tanah di perbatasan kedua desa itu adalah milik mereka.

 

“Saat awal saya mendata, saya sudah menanyakan langsung kepada Pak Mathius bagaimana dengan soal itu. Dia bilang tidak usah dipersoalkan. Saya tidak tahu kenapa kemudian menjadi seperti ini,” ungkap Zainul.

 

“Perbatasan itu milik Desa Watubula, karena warga kami sudah berkebun di sana sebelum sejumlah desa dimekarkan,” sebut Mathius.

 

Sementara, pengamat sosiologi hukum Sofyan Faried Lembah melihat bahwa untuk menyelesaikan masalah itu tak melulu harus melihatnya dari sudut pandang hukum semata.

 

Sebagai masyarakat asli yang masih memegang kukuh adat tradisi, masyarakat suku Da’a punya aturan sendiri melihat tanah dan lahan pertanian mereka.

 

“Jika ingin menyelesaikan persoalan ini, dekati dari sisi sosialnya, dari sisi adat budayanya. Tanya ke orang Da’a. apa arti tanah buat mereka. Bagaimana mereka memperlakukan tanah mereka. Selama ini penyelesaiannya selalu dari sisi penegakan hukum, bahwa yang bersalah membacok harus dihukum dan kita lupakan sisi lainnya,” sebut Sofyan.

 

Menurutnya, lembaga adat yang ada di kelompok masyarakat ini harus diberdayakan lagi. Galibnya, menurut Sofyan, mereka justru lebih mempercayai lembaga adatnya daripada pemerintahan desa mereka.

 

“Nah, itu yang mesti diperhatikan oleh Polisi maupun pemerintah dalam upaya menyelesaikan masalah ini,” demikian Sofyan.

 

Sudah saatnya kekerasan demi kekerasan di wilayah itu diakhiri dengan pendekatan yang lebih arif. Sebab kalau tidak, kekerasan itu akan makin bertumbuh, dan korban-korban baru akan berjatuhan.***

 


Posted at 11:28 am by jgbuapalu
Comments (2)  

 
Wednesday, June 14, 2006
News

Bentrok Antarkampung di Donggala, Seorang Luka Parah dan Tiga Rumah Dibakar

Donggala - Bentrok antarkampung kembali terjadi di Donggala, Sulawesi Tengah. Bentrokan ini dipicu oleh perebutan batas wilayah Desa Maku dan Desa Watubula di Kecamatan Biromaru, Donggala, sekitar 20 kilometer dari Palu, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah. Akibat bentrokan ini, seorang warga terluka parah terkena tembakan senjata peluncur bermata besi berkait dan tiga rumah warga setempat ikut pula dibakar.

Bentrokan terjadi Rabu (14/6/2006) sekitar pukul 13.00 Waktu Indonesia Tengah. Saat itu, sekitar 40 orang warga Watubula tengah kerja bakti menanam pohon pisang di atas tanah yang dipersengketakan warga dua desa tersebut. Entah bagaimana, puluhan orang warga dari Desa Maku mendatangi warga Watubula yang tengah menanam pohon pisang tadi, lalu menebang tanaman pisangnya. Tak puas dengan itu, mereka lalu menebas Peni, warga Watubula yang berusia sekitar 40 tahun. Bahkan salah seorang di antara warga yang mendatangi Peni, lalu menembaknya dengan senjata peluncur bermata besi berkait. Tembakan itu menancap di lengan kiri lelaki tadi.

Tak berapa lama, karena warga Watubula yang menanam pisang tadi melakukan perlawanan, ratusan massa lainnya berdatangan. Mereka lalu membakar tiga rumah semi permanen milik Peni dan keluarganya. Menurut Peni, ia tak tahu menahu, mengapa warga Maku mendatangi dan menebang tanaman pisang yang mereka baru tanam, lalu kemudian menebasnya. Sampai ia kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah.

“Kami kerja bakti menanam pisang di kebun kami. Ada banyak yang lainnya saling membantu. Tidak tahu kenapa ada yang datang menebang tanaman pisang yang baru kami tanam itu. Saat saya marah. Mereka potong saya dengan parang dan menembak saya dengan peluncur,” tutur Peni yang terbaring menahan sakit akibat mata anak panah peluncur masih menancap di lengan kirinya.

Polisi Siaga

Saat kejadian, Satu peleton Satuan Perintis dan sejumlah tim buru sergap Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Donggala pun mendatangi tempat kejadian perkara dan berusaha menghalau massa. Bentrokan yang lebih besar pun dapat dihindarkan. Sementara, pelaku pembakaran tiga rumah warga itu diburu polisi, namun polisi hanya menemukan sebilah parang dan tombak milik warga yang menyerang tadi.

Untuk menjaga kemungkinan terburuk, saat ini, satu kompi Satuan Perintis Polres Donggala, masih disiagakan di lokasi kejadian. Di lokasi kejadian, Kepala Polres Donggala AKBP Hendrik Simanjuntak terlihat terus bersiaga bersama anggota Kepolisian lainnya.

“Untuk menjaga kemungkinan meluasnya pertikaian ini, kami menyiagakan satu satuan setingkat kompi Perintis yang didukung oleh reserse dan intelijen,” kata Hendrik.

Untuk diketahui, pertikaian antarkampung di wilayah ini sudah berlangsung sejak tahun 1980. Sayang, sampai kini belum bisa diselesaikan. Sudah banyak korban tewas dan luka-luka akibat bentrok terbuka menggunakan senjata api rakitan maupun senjata tradisional. Perkaranya, selalu dimulai dari perebutan tanah dan batas wilayah.***


Posted at 08:11 pm by jgbuapalu
Tulis Komentar Anda  

 
Sunday, May 28, 2006
Breaking News

Duka Cita untuk Yogya

Turut berduka cita atas musibah Gempa Bumi yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Semoga diberi ketabahan dan ketetapan hati bagi mereka yang terkena musibah, dan bagi yang kehilangan semoga diberikan ganti yang lebih baik.

 


Posted at 03:42 pm by jgbuapalu
Tulis Komentar Anda  

News

Aksi Peduli untuk Korban Gempa Yogya

Palu - Gempa bumi 5.9 Skala Richter yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah serta mengakibatkan jatuhnya ribuan korban jiwa mengundang keprihatinan di mana-mana. Sekitar 10 aktivis di di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (27/5/2006) malam mengelar aksi pengumpulan sumbangan di jalan utama di Kota Palu. Mereka mengumpulkan dari pengendara kendaraan bermotor yang melintas di jalan Hasanuddin I itu.

Dngan megaphone, seorang di antara mereka terus mengimbau agar warga Kota Palu menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu ribuan korban gempa bumi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Meski memacetkan arus lalu lintas yang melewati jalur jalan utama di kota palu itu, namun tampaknya para pemakai jalan mengerti.

Ada di antara mereka yang langsung memberikan di kotak kardus yang disodorkan oleh para aktivis itu itu, ada pula yang tidak. Jumlah sumbangan terkecil Rp 1000 dan yang terbesar Rp 20 ribu.

Menurut Supardi, salah seorang di antara aktivis itu, sumbangan ini akan mereka salurkan langsung ke para korban melalui lembaga-lembaga resmi di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kata Supardi, mereka akan terus mengumpulkan sumbangan dalam bentuk uang tunai, barang dan makanan hingga dirasa cukup untuk membantu para korban bencana.***


Posted at 02:02 pm by jgbuapalu
Tulis Komentar Anda  

 
Sunday, May 21, 2006
News

Abraham, Bayi Malang yang Lahir Tanpa Anus

 

Palu - Abraham Timothy, kini hanya bisa tergolek lemas dan merintih kesakitan di atas pembaringan ruang Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Undata Palu. Perut bayi laki-laki berusia lima hari ini mmbengkak. Saban hari ia hanya mengerang kesakitan, karena tidak bisa buang air besar lantaran tidak punya lubang anus.

 

Kedua orang tua Abraham baru mengetahui adanya kelainan pada putra bungsu dari tiga bersaudara ini sehari setelah melahirkan. Suryani,ibu Abraham  heran melihat anaknya tak berhenti menangis kesakitan. Ia pun menduga-duga penyebabnya.

 

“Saya pikir dia tidak bisa buang air besar karena mungkin ada sesuatu di perutnya. Saya pun mengambil sabun mandi, saya runcingkan dan dimasukkan ke lubang anusnya. Ternyata lubang anusnya itu tidak tembus, pantas saja dia terus menerus menangis,” tutur Suryani berlinang air mata, Minggu (21/5/2006).

 

Tidak tahan melihat penderitaan anak ketiganya, Suryani dan Ronald Timothy, suaminya kemudian berinisatif membawa ke Puskesmas terdekat. Namun karena keterbatasan fasilitas, Puskesmas setempat pun merujuknya ke Rumah Sakit Umum Daerah Undata Palu.

 

Tentu saja Suryani dan Ronald bersusah hati, mengingat mereka sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani di Bteleme, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Namun demi kesembuhan buah hatinya itu, mereka pun membawa Abraham ke Rumah Sakit Umum Undata.

 

Kini, bayi malang tadi masih dirawat sementara di Unit Gawat Darurat menunggu hasil diagnosa dokter.***

 


Posted at 06:50 pm by jgbuapalu
Tulis Komentar Anda  

Previous Page Next Page