| catatan sepanjang jalan |
Tong sampah dan ruang bagi catatan-catatan penting selama perjalananku dan hal-hal lain yang dianggap perlu diketahui orang lain
|
 |
Palu
– Kasus korupsi dana APBD dan non-APBD di lingkungan Pemerintah
Kabupaten Donggala memasuki babakan baru. Salah seorang saksi, yakni
mantan staf Bagian Keuangan Abu Irfan akan segera ditetapkan Kejaksaan
Tinggi Sulawesi Tengah sebagai tersangka korupsi.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun di Kejaksaan
dari pemeriksaan sejak 14 Februari lalu ditemukan bukti kuat untuk
menaikkan status saksi Abu Irfan sebagai tersangka. Saat ini, kata
sumber SH di Kejaksaan, satu unit mobil taft warna hitam milik Abu
Irfan telah disita untuk keperluan penyidikan.
Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Hubungan
Masyarakat Kejaksaan Tinggi Sulteng Hasman AH belum mau memberikan
keterangan rinci terkait peningkatan status mantan staf Keuangan itu.
“Kami masih melakukan pendalaman atas keterangan
sejumlah saksi. Adapun penyitaan asset-aset yang diduga merupakan hasil
korupsi karena kekuatiran kami mereka akan menghilangkan barang-barang
buktinya,” kata Hasman.
Kejaksaan juga sudah meminta keterangan bagian
pemasaran NV BHadji Kalla Hj Ratna terkait dengan pengadaan mobil dinas
Pemkab Donggala tahun 2006.
Di tahun tersebut, ada beberapa mobil dinas yang
dibeli Pemkab Donggala dari NV Hadji Kalla. Padahal pengadaannya belum
dianggarkan di APBD.
Yang ironis, sebanyak lima unit mobil Mitsubishi
Kuda yang dibeli dari perusahaan penyalur mobil tersebut kini telah
ditarik, sebab sudah tujuh bulan menunggak pembayaran cicilannya.
Itulah yang kini tengah didalami Kejaksaan penyidikanya. ***
Posted at 10:46 am by jgbuapalu
Home
Izin Kadaluwarsa, Puluhan Senjata Polisi Bermasalah Disita Palu
– Menyusul insiden berdarah di Polwiltabes Semarang, Kepolisian Resor
Tolitoli, Sulawesi Tengah menertibkan senjata api yang ada di tangan
sejumlah anggota Kepolisian setempat. Puluhan senjata kini disita dan
akan diregistrasi ulang. Pemeriksaan dan
penertiban senjata api milik anggota Polres Tolitoli dilakukan bermula
dari disitanya dua pucuk senjata api jenis revolver dari dua anggota
Polisi yang tengah bermasalah dengan istrinya. Lalu untuk
mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan pihak P3D Polres Tolitoli
melakukan pemeriksaan menyeluruh atas anggota kepolisian setempat. Hasilnya
dari 108 pucuk senpi yang dimiliki anggota Kepolisian setempat,
sebanyak 32 pucuk dianggap bermasalah karena surat izinnya telah
kadaluwarsa. Pihak Kepolisian setempat saat ini masih melakukan
pemeriksan atas 32 anggotanya yang memiliki senpi tersebut namun tidak
dilengkapi izin yang masih berlaku. Kapolres
Tolitoli AKBP Nurul Falah mengakui penertiban senjata itu untuk
mengantisipasi munculnya tindakan melanggar hukum yang dilakukan
anggota Kepolisian. “Kasus yang terjadi di
Polwiltabes Semarang itu cukuplah menjadi pelajaran. Nanti kalau
dibiarkan akan makin banyak pelanggaran hukum akibat kelalaian
penggunaan senjata bagi anggota Polri,” kata Falah saat dihubungi. Kapolda
Sulteng Brigjen Badrodin Haiti menyatakan bahwa upaya penertiban yang
dilakukan Polres Tolitoli merupakan tanggungjawab institusi Polri dalam
penegakan hukum. Pada saat sama, Badrodin juga menceritakan sosok Brigadir Hance semasa anggota Polisi itu menjadi ajudannya. “Ia pendiam. Tapi saya nilai ia tidak mempunyai kelainan atau sikap keras dalam diri Hance. Namun ia kurang
cekatan,” tuturnya.***
Posted at 10:45 am by jgbuapalu
Home
Dana Taktis Wagub Sulteng Kebobolan Rp7,9 Miliar
Palu -
Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah menyatakan uang negara yang dikorupsi
mantan Bendahara Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Ester Podengge mencapai
Rp7,9 miliar. Polisi menaksir kerugian negara itu setelah memeriksa
sejumlah saksi dan berhasil menyita 32 lembar bilyet giro yang terkait
dengan dana taktis wagub Sulteng tersebut. Kepolisian telah menetapkan
Ester sebagai tersangka utama dengan menjeratnya sebagai tersangka
pencurian, pemalsuan dan pelaku money loundry.
Kepala Satuan II
Direktorat Reserse dan Kriminal Polda Sulteng AKBP Drs Fahruz Zaman
menyatakan sejauh ini pihaknya telah memeriksa 26 orang saksi. Dari
keterangan saksi diketahui dengan jelas dana dari Pemegang Kas Daerah
(PKD) yang ada di Bank Sulteng senilai Rp10 miliar. Setelah dikurangi
pagu untuk bendahara Wagub senilai Rp2,8 miliar diketahui sekitar Rp7,9
miliar dicairkan menggunakan 32 BG yang diduga sebagai hasil kejahatan
Ester.
"Semua aliran dana, termasuk siapa-siapa yang ikut
mencairkan kami sudah cek ke Bank Sulteng. Jadi tunggu saja siapa lagi
yang akan bertanggungjawab dalam kasus ini. Selama mereka tidak bisa
mempertanggungjawabkan penggunanaan dana negara kita itu akan
ditetapkan sebagai tersangka," tandas Fahruz.
Untuk diketahui,
kasus pembobolan dana wagub Sulteng ini diketahui setelah dilakukan
pengecekan rekening koran di Bank Sulteng pada Desember 2006 lalu.
Pihak PKD yang mencurigai jumlah dana yang di rekening koran tersebut
kemudian melaporkannya kepada Polisi. Saat itu juga Polisi bergerak
cepat memeriksa sejumlah saksi. Setelah mendapatkan bukti kuat,
Kepolisian kemudian menetapkan dua tersangka Ester Podengge dan Yani
Agan.
Saat ini, berkas kasus Ester sudah masuk pelimpahan tahap
pertama kepada Kejaksaan Tinggi Sulteng. Sementara terkait dengan
tersangka Yani, sampai saat ini pihak Kepolisian masih melakukan
penyidikan.***
Posted at 10:41 am by jgbuapalu
Home
Palu
- Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) Sulawesi
mendesak semua Polres di Wilayah Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah
(Polda Sulteng) melakukan pemeriksaan sekaligus mengaudit senjata api
(Senpi) untuk menghindari kecelakaan dan penyalahgunaannya.
“Pemeriksaan ini harus dilakukan serentak dan
merata pada semua tingkatan Polres di Sulteng,” demikian penegasan
Koordinator Kontras Sulawesi, Edmond Leonardo.
Menurut Edmon, pemeriksaan tersebut harus
dilakukan menyeluruh atas semua anggota Polri, baik jumlah senpi maupun
amunisinya. Di samping itu tentu saja kelengkapan adminsitrasinya,
yakni surat izin memegang senpi. Kemudian diteruskan dengan psikotest
bagi anggota Polri yang memang harus memegang senpi semisal anggota
reserse.
“Yang tidak kalah pentingnya adalah pemeriksaan
senpi maupun amunisi yang disimpan dalam gudang-gudang milik Polri,
karena tidak menutup kemungkinan adanya kehilangan,” kata Edmon.
Di Sulawesi Tengah sejumlah kasus penyalahgunaan
senpi oleh anggota Polri pernah beberapa kali terjadi. Kasus itu antara
lain adalah penembakan yang dilakukan oleh seorang anggota Polsek Buol
pada seorang warga sipil tahun 2006 lalu, kemudian penembakan yang
menewaskan Akbal Setyawan (27) warga Palu Barat pada Januari 2007 lalu
oleh Bripda Andri.
Sejauh ini baru Polresta Palu dan Polres Buol yang
melakukan pemeriksaan dan penarikan senpi bermasalah yang dimiliki oleh
anggotanya.
Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Polres
Tolitoli atas 108 pucuk senpi yang dimiliki anggota Kepolisian
setempat, sebanyak 32 pucuk Senpi dianggap bermasalah dan kemudian
ditarik karena surat izinnya telah kadaluwarsa. Atas hasil pemeriksaan
itu, 32 anggota Polri setempat pun telah menjalani pemeriksaan.***
Posted at 10:38 am by jgbuapalu
Home
| |
Tuesday, February 20, 2007 |
Sungai Palu Meluap, Ratusan Rumah di Donggala Terendam Lumpur
Palu - Ratusan rumah di dua desa di Donggala, Sulawesi Tengah sejak Senin (19/2/2007) sampai Selasa (20/2/2007) ini masih terendam banjir lumpur dan air yang meluap dari Sungai Palu akibat hujan deras selama sepekan terakhir. Saat ini ratusan kepala keluarga tidak bisa melakukan apa-apa karena sebagian besar bahan pangan dan dapur mereka telah terendam. Warga juga khawatir jika banjir kali ini akan lebih besar lagi dari banjir pada tahun-tahun sebelumnya.
Awalnya banjir air beserta Lumpur sudah menghantam permukiman warga sejak Senin dinihari saat warga Sidondo Dua, Kabuaten Donggala, Sulawesi Tengah sudah tertidur lelap. Tidak ada yang menyangka air bah akan datang dan merendam ratusan rumah mereka. Jelas saja mereka kalang Kabut. Untungnya, sebagian besar mampu menyelamatkan diri sehingga tidak ada yang menjadi korban hantaman banjir tersebut. Namun tidak urung, mereka tidak dapat menyelamatkan bahan panganutamanya beras yang menjadi bahan makanan pokok mereka sehari-hari.
“Kami sekarang belum bisa memasak karena beras terendam air. Sementara dapur kami juga terendam,” tutur Yusran, seorang warga yang rumahnya masih terendam air setinggi tumit orang dewasa.
Selasa ini, rumah-rumah warga masih tergenang air ada yang sebatas mata kaki hingga pinggul orang dewasa. Bahkan ada yang tidak bisa ditempati lagi untuk sementara. yang rumahnya tidak bisa ditempati memilih mengungsi ke rumah-rumah keluarganya. namun ada pula yang nekad menempati rumahnya/meski air masih membenamkan lantai rumah mereka. aktivitas keluarga seperti memberi makan anak dan mencuci terpaksa hanya bisa dilakukan di teras-teras rumah. satu-satunya masjid di desa tersebut juga terendam banjir.
Tercatat sebanyak 126 rumah dan 1 masjid terendam air. Lalu sebanyak 50 hektare lahan perkebunan terancam karena sudah tergenang air dua hari lamanya.
Sudarman, Kepala Desa setempat menyatakan saban tahun wilayahnya menjadi langganan banjir. Warga setempat sudah berkali-kali meminta dibuatkan tanggul penahan banjir, maklum desa mereka berada di daerah aliran air Sungai Palu namun pemerintah tak kunjung memenuhi permintaan mereka.
“Kami sudah meminta berkali-kali dibuatkan tanggul, tapi belum dipenuhi juga. Makanya jika musim penghujan, warga di sini was-was akan datang banjir. Sementara ini, kalau air belum surut kami akan mengungsikan warga ke desa seberang,” kata Sudarman.***
Posted at 09:16 am by jgbuapalu
Home
Paman Bejat Perkosa Keponakannya
Palu - Tak tahan melihat kemolekan seorang bocah yang juga keponakannya seorang lelaki di Ampibabo, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah memperkosa anak dari keluarga istrinya. Ulah tersangka terbongkar setelah korban melaporkan ke orang tuanya. Kini tersangka TY mendekam dalam sel tahanan Polsek Ampibabo.
Perbuatan tersangka TY (29), warga Desa Olaya, Parigi tergolong bejat. Anak dari keluarga istrinya sendiri, sebut saja bunga namanya, yang masih berusia 10 tahun diperkosa. Korban diperkosa di kamar saat orang tuanya pergi melaut.
Tersangka memang sudah merencanakan untuk berbuat tak senonoh pada bocah bau kencur itu. Saat itu, tersangka terlihat menunggui kapan ayah bocah ini pergi melaut. Saat itu, korban hanya eorang diri ditinggal ayahnya pergi melaut. Lalu masuklah TY. Korban yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas empat ini tidak curiga dan bahkan tersangka sudah dianggap sebagai orang tua karena keluarga dari ibunya dan teman dari ayahnya yang sama-sama sebagai nelayan.
Awalnya, tersangka membujuk korban untuk dilayani. Bujukan tersangka ditolak. Karena dirasuki nafsu bejat, tersangka mengancam korban untuk dilayani. Jika tidak dia akan dibunuh. Meski melawan tersangka tetap melampiaskan nafsunya. Ancaman ini kembali dilontarkan setelah tersangka usai memperkosa korban. “Ya, saya mengaku salah. Saya sudah kemasukan setan. Saya tergiut sama anak kecil, meski saya sudah punya istri juga,” aku TY dalam pemeriksaan.
Kapolsek Ampibabo IPTU Saiful Ars Mastura mengatakan mengatakan tersangka usai memperkosa korban, saat itu juga kabur ke desa asalnya di Parigi. Usai menerima laporan korban tersangka langsung diburu dan ditangkap di rumahnya.
“Tapi karena kita sudah mengantongi identitasnya dengan mudah ia kami tangkap,” kata Saiful.
Akibat perbuatannya, tersangka pemerkosaan selain dijerat Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002, pasal 82 tentang pencabulan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda RP 300 juta. Tersangka juga dijerat dengan Pasal 285 KUHP tentang pemerkosaan dengan ancaman 12 tahun penjara.***
Posted at 09:13 am by jgbuapalu
Home
| |
Monday, February 19, 2007 |
Bila Imlek Dirayakan di Gereja Katolik
Palu - Perayaan Imlek di Palu, Minggu (18/2/2007) berlangsung lancar dan Aman. Yang menarik, berbeda dengan daerah lainnya di Indonesia perayaan tahun baru Cina ini dipusatkan di Gereja Katolik Santa Maria, Palu, Sulawesi Tengah, bukan di klenteng atau vihara-vihara. Atraksi barongsai dan musik bambu pun tak luput dipertunjukkan.
Seketika Gereja Katolik Santa Maria Palu berubah nuansanya. Lampion atau lampu hias khas cina yang didominasi warna merah dan kuning menghiasi langit-langit Gereja Katolik terbesar di Kota Palu itu. Bahkan busana para jemaat yang mengikuti ibadah di Minggu ini bernuansa khas Cina. Gereja katholik terlihat menjadi semarak dengan lampu-lampu hias khas cina ini. Maklum para warga keturunan Tionghoa menggelar misa Minggu sekaligus perayaan tahun baru Cina di gereja itu. Ibadah dipimpin oleh Pastor Melky Toreh dari Kepastoran Palu, yang menggunakan jubah khas Cina.
Arak-arakan anak-anak altar pun tetap terlihat seperti biasanya. Namun kali ini menjadi berbeda karena anak altarnya adalah anak-anak Warga Negara Indonesia Keturunan Tionghoa. Kidung, doa puji-pujian pada tuhan pun disampaikan dalam bahasa Cina. Lalu setelah ibadah usai para jemaat dewasa mengantarkan angpao untuk sang pastor.
Setelah usai ibadah di dalam gereja, halaman Gereja Katolik di Jalan Tangkasi, Palu Selatan itu pun diubah menjadi arena barongsai. Seekor naga dan seekor singa meliuk-liuk di halaman gereja berusaha mengambil beberapa bungkus angpao yang digantung di pokok-pokok bambu. Para jemaat gereja mulai dari anak-anak hingga orang tua terlihat menikmati pertunjukkan ini. Mereka pun dengan gembira memberikan angpao kepada sang naga dan sang macan.
Tidak cukup hanya dengan atraksi barongsai, para jemaat pun disuguhi musik bamboo. Ya, musik bambu, karena kelompok pemusik ini menggunakan alat-alat musik dari bambu.
Pastor Melky Toreh menyatakan perayaan Imlek di gereja Katolik ini adalah bentuk inkulturasi yang diharapkan dapat menumbuhkan semangat saling pengertian dan menghormati kepercayaan umat yang beragam di Indonesia. Apalagi faktanya sebagian besar warga keturunan di Palu beragama Kristen Katolik.***
Posted at 08:40 am by jgbuapalu
Home
Belasan Rumah di Parigi Moutong Rusak Diterjang Banjir
Palu - Sedikitnya 11 unit rumah warga di Kelurahan Bantaya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah rusak diterjang banjir, Minggu (18/2/2007) dini hari. Kuatir akan datangnya banjir susulan warga membuat tanggul dari karung berisikan pasir untuk mencegah air masuk ke dalam rumah.
Banjir yang menimpa permukiman warga di Kelurahan Bantaya Minggu dini hari akibat hujan deras yang mengguyur sejak Sabtu pagi hingga Minggu dini hari. Jebolnya tanggul irigasi di dekat muara sungai di wilayah pesisir tersebut membuat air masuk ke dalam rumah setinggi setengah meter hingga satu meter.
Ratusan rumah warga yang berada di tepi pantai serta jalan raya digenangi air. Selain mengenangi rumah warga tercatat 11 unit rumah warga rusak akibat terjengan air. Banjir yang terjadi Minggu dini hari tersebut membuat warga kalangkabut. Mereka spontan mengangkut barang-barang agar tidak tergenang air. Sebagian warga mengungsi ke tempat-tempat yang lebih tinggi dan rumah-rumah warga yang tidak terkena banjir.
Karena hujan yang masih turun warga kuatir adanya banjir susulan. Mengantisipasi banjir susulan yang merusak rumah, warga membuat tanggul buatan dari karung yang diisi pasir. Karung-karung pasir ini diletakkan di depan rumah yang rusak akibat terkikis saat banjir. Menurut warga setempat banjir ini kerap terjadi saban musim penghujan. Apalagi jika tanggul penahan air di muara sungai jebol.
“Pokoknya kami tinggal memperkuat tanggul supaya air tidak masuk rumah lagi. Hari ini, warga masih membenahi rumah-rumah warga yang rusak. Rencananya Pemerintah akan segera memperbaiki tanggul yang jebol,” kata Maxi warga setempat.
Hingga Senin (19/2/2007) ini, sebagian warga masih membersihkan luberan lumpur di rumah-rumah mereka. Selain membersihkan rumah warga juga mengungsikan barang-barang berharga mereka ke tempat yang aman. Sementara yang lain memperbaiki lantai rumahnya yang hancur karena teredam banjir selama sehari.***
Posted at 08:31 am by jgbuapalu
Home
| |
Thursday, August 31, 2006 |
Muntaber Serang Balita di Poso, Tiga Meninggal
Poso - Wabah peyakit muntah disertai buang air besar yang lebih dikenal sebagai muntaber menyerang puluhan bayi di bawah usia lima tahun di Poso, Sulawesi Tengah. Bahkan beberapa balita telah meninggal dunia akibat serangan wabah penyakit yang disebabkan bakteri itu.
Dari catatan Rumah Sakit Umum Daerah Poso, Sulawesi Tengah. wabah penyakit ini telah menyerang sebanyak 72 balita sejak Agustus lalu. Bahkan tiga balita meninggal dunia. Saat ini, sejumlah balita masih dirawat intensif di RSUD Poso. Sebagiannya dirawat jalan.
Hingga akhir bulan ini masih ada 12 pasien balita penderita muntaber yang dirawat intensif di RSUD Poso. Umumnya balita yang berusia tak lebih dari satu tahun.
Nursia, bidan di RSUD Poso yang merawat balita-balita penderita muntaber ini mengatakan kasus serangan wabah muntaber meningkat selama hampir dua bulan terakhir ini. Ia menganjurkan agar para orang tua segera membawa anaknya jika memperlihatkan gejala-gejala terserang penyakit ini.
"Biasanya, mereka nanti membawa anaknya ke rumah sakit setelah kondisinya cukup parah. Bahkan ada pula yang tidak sempat dibawa lalu meninggal dunia," ujar Nursia, Selasa (29/8) di Poso.
Yang menarik, meski sudah dirawat di rumah sakit tetap ada saja balita yang diberikan pengobatan tradisional. Ada yang perutnya dilapisi daun ubi kayu, agar perut balita penderita muntaber itu menjadi hangat.***
Posted at 09:43 pm by jgbuapalu
Home
Maleo, Burung Antipoligami yang Terancam Punah
Anda kenal Maleo? Bisa jadi, ya! Bisa jadi pula, tidak! Dalam bahasa latin satwa yang masuk dalam bangsa Aves atau burung ini dikenal dengan nama Macrocephalon maleo. Tubuhnya tidak lebih besar dari bebek, tapi telurnya tiga kali lebih besar dari telur bebek. Beratnya mencapai 450 gram per butirnya.
Burung ini adalah satwa endemik Sulawesi, artinya hanya bisa ditemukan hidup dan berkembang di Pulau Sulawesi. Dan, populasi terbanyaknya kini tinggal di Sulawesi Tengah. Salah satunya adalah di cagar alam Saluki, Donggala, Sulawesi Tengah. Di wilayah yang masuk dalam enclave Taman Nasional Lore Lindu ini, populasinya sekarang ditaksir tinggal 320 ekor. Memprihatinkan, sebab jumlah populasi pada tahun 1970-an ditaksir tak kurang dari 1000 ekor. Populasi Maleo kian terancam oleh para pencuri telur dan pembuka lahan yang mengancam habitatnya, ditambah lagi dengan musuh alami yang menjadi pemangsa telur Maleo, yakni babi hutan atau biawak.
Habitat Maleo yang khas juga mempercepat kepunahannya. Maleo hanya bisa hidup di dekat pantai berpasir panas atau di daerah pegununungan yang memiliki sumber mata air panas atau kondisi geothermal tertentu. Sebab di daerah dengan sumber panas bumi itu, Maleo mengubur telurnya dalam pasir hingga kedalaman 15 centimeter. Lalu telur itu dierami oleh panas bumi, karena Maleo tidak bisa mengerami sendiri.
Sayang, pencuri telurnya kian merajalela. Di pasaran harga telur Maleo mencapai Rp 15 ribu per butir. Itulah yang membuat telurnya diburu pencuri. Untunglah Dinas Kehutanan Melalui Balai Taman Nasional Lore Lindu berhasil membuat penangkaran satwa endemik. Dan seorang laki-laki tua bernama Ambo Tuo, petani setempat, dengan ketekunan berhasil menangkarkannya. Sudah sekitar 100 ekor Maleo tangkarannya yang dilepas ke alam bebas. Laki-laki itu ditemani Hermansyah Sia, seorang petugas kehutanan setempat.
Ada pula Ali Kamisi, lelaki yang sudi menghabiskan hari-hari di masa tuanya untuk menangkarkan burung yang memakan kemiri ini.
Ketiga orang itu berharap satwa endemik warisan dunia ini bisa mencapai ratusan ekor lagi populasinya. Agar anak cucu kita tak hanya mendengar dongeng tentang burung bertelur besar yang konon antipoligami ini.***
Posted at 02:45 pm by jgbuapalu
Home
|