Entry: News Monday, July 10, 2006



Maleo, Burung Antipoligami yang Terancam Punah

 

Anda kenal Maleo? Bisa jadi, ya! Bisa jadi pula, tidak! Dalam bahasa latin satwa yang masuk dalam bangsa Aves atau burung ini dikenal dengan nama Macrocephalon maleo. Tubuhnya tidak lebih besar dari bebek, tapi telurnya tiga kali lebih besar dari telur bebek. Beratnya mencapai 450 gram per butirnya.

 

Burung ini adalah satwa endemik Sulawesi, artinya hanya bisa ditemukan hidup dan berkembang di Pulau Sulawesi. Dan, populasi terbanyaknya kini tinggal di Sulawesi Tengah. Salah satunya adalah di cagar alam Saluki, Donggala, Sulawesi Tengah. Di wilayah yang masuk dalam enclave Taman Nasional Lore Lindu ini, populasinya sekarang ditaksir tinggal 320 ekor. Memprihatinkan, sebab jumlah populasi pada tahun 1970-an ditaksir tak kurang dari 1000 ekor. Populasi Maleo kian terancam oleh para pencuri telur dan pembuka lahan yang mengancam habitatnya, ditambah lagi dengan musuh alami yang menjadi pemangsa telur Maleo, yakni babi hutan atau biawak.

 

Habitat Maleo yang khas juga mempercepat kepunahannya. Maleo hanya bisa hidup di dekat pantai berpasir panas atau di daerah pegununungan yang memiliki sumber mata air panas atau kondisi geothermal tertentu. Sebab di daerah dengan sumber panas bumi itu, Maleo mengubur telurnya dalam pasir hingga kedalaman 15 centimeter. Lalu telur itu dierami oleh panas bumi, karena Maleo tidak bisa mengerami sendiri.

 

Sayang, pencuri telurnya kian merajalela. Di pasaran harga telur Maleo mencapai Rp 15 ribu per butir. Itulah yang membuat telurnya diburu pencuri. Untunglah Dinas Kehutanan Melalui Balai Taman Nasional Lore Lindu berhasil membuat penangkaran satwa endemik. Dan seorang laki-laki tua bernama Ambo Tuo, petani setempat, dengan ketekunan berhasil menangkarkannya. Sudah sekitar 100 ekor Maleo tangkarannya yang dilepas ke alam bebas. Laki-laki itu ditemani Hermansyah Sia, seorang petugas kehutanan setempat.

 

Ada pula Ali Kamisi, lelaki yang sudi menghabiskan hari-hari di masa tuanya untuk menangkarkan burung yang memakan kemiri ini. 

 

Ketiga orang itu berharap satwa endemik warisan dunia ini bisa mencapai ratusan ekor lagi populasinya. Agar anak cucu kita tak hanya mendengar dongeng tentang burung bertelur besar yang konon antipoligami ini.***

 

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments