|
Palu - Perayaan Imlek di Palu, Minggu (18/2/2007) berlangsung lancar dan Aman. Yang menarik, berbeda dengan daerah lainnya di Indonesia perayaan tahun baru Cina ini dipusatkan di Gereja Katolik Santa Maria, Palu, Sulawesi Tengah, bukan di klenteng atau vihara-vihara. Atraksi barongsai dan musik bambu pun tak luput dipertunjukkan. Seketika Gereja Katolik Santa Maria Palu berubah nuansanya. Lampion atau lampu hias khas cina yang didominasi warna merah dan kuning menghiasi langit-langit Gereja Katolik terbesar di Kota Palu itu. Bahkan busana para jemaat yang mengikuti ibadah di Minggu ini bernuansa khas Cina. Gereja katholik terlihat menjadi semarak dengan lampu-lampu hias khas cina ini. Maklum para warga keturunan Tionghoa menggelar misa Minggu sekaligus perayaan tahun baru Cina di gereja itu. Ibadah dipimpin oleh Pastor Melky Toreh dari Kepastoran Palu, yang menggunakan jubah khas Cina. Arak-arakan anak-anak altar pun tetap terlihat seperti biasanya. Namun kali ini menjadi berbeda karena anak altarnya adalah anak-anak Warga Negara Indonesia Keturunan Tionghoa. Kidung, doa puji-pujian pada tuhan pun disampaikan dalam bahasa Cina. Lalu setelah ibadah usai para jemaat dewasa mengantarkan angpao untuk sang pastor. Setelah usai ibadah di dalam gereja, halaman Gereja Katolik di Jalan Tangkasi, Palu Selatan itu pun diubah menjadi arena barongsai. Seekor naga dan seekor singa meliuk-liuk di halaman gereja berusaha mengambil beberapa bungkus angpao yang digantung di pokok-pokok bambu. Para jemaat gereja mulai dari anak-anak hingga orang tua terlihat menikmati pertunjukkan ini. Mereka pun dengan gembira memberikan angpao kepada sang naga dan sang macan. Tidak cukup hanya dengan atraksi barongsai, para jemaat pun disuguhi musik bamboo. Ya, musik bambu, karena kelompok pemusik ini menggunakan alat-alat musik dari bambu. Pastor Melky Toreh menyatakan perayaan Imlek di gereja Katolik ini adalah bentuk inkulturasi yang diharapkan dapat menumbuhkan semangat saling pengertian dan menghormati kepercayaan umat yang beragam di Indonesia. Apalagi faktanya sebagian besar warga keturunan di Palu beragama Kristen Katolik.*** |
| Leave a Comment: |